Sabtu, 09 November 2013
05.42
Label: ARTIKEL GARUT SELATAN , Motivasi , Share
Kabupaten Garut adalan wilayah yang
didominasi oleh kegiatan pertanian, yang membutuhkan kegiatan pemasaran
produk pertanian untuk meningkatkan produktivitas masyarakatnya. Fungsi
pemasaran tersebut diperankan oleh pusat-pusat permukiman, sesuai dengan
jangkauan pelayanannya. Antara pusat-pusat pemasaran tersebut terdapat
keterkaitan yang saling nienunjang, yang secara fisik dibentuk oleh
jaringan jalan. Penanganan jalan memerlukan anggaran yang besar,
sehingga pada beberapa daerah, terutama yang memiliki PAD rendah,
terjadi ketidakmerataan penanganan prasarana wilayah tersebut. Hal
tersebut mengganggu keterkaitan pusat-pusat permukiman yang memiliki
fiingsi pemasaran produk pertanian, yang akan mempengaruhi produktivitas
masyarakat pada daerah yang didominasi oleh sektor pertanian tersebut.
Studi ini dilakukan untuk merumuskan prioritas penanganan jaringan jalan
yang secara efisien mengintegrasikan pusat-pusat pemasaran produk
pertanian, dengan studi kasus Kabupaten Garut.
Pada studi dilakukan identifikasi terhadap potensi, harga jual,
pusat-pusat pemasaran, serta jalur pemasaran produk pertanian tanaman
pangan. Kemudian dilakukan identifikasi terhadap kondisi, biaya
penanganan, serta kebijakan penanganan jaringan jalan. Selanjutnya
dilakukan analisis jalur dengan menggunakan metode "Shortest Path",
dengan meninjau aspek jarak minimal dan total biaya penanganan minimal.
Pada studi ini dilakukan perhitungan biaya penanganan jalan berdasarkan
panjang, lebar jalan permukaan dan kondisi ruas jalan, dipadukan jenis
penanganannya. Kemudian dilakukan analisis vilayah potensi pertanian
dengan mengu utkan wilayah berdasarkan nilai produksi pertaniannya. Dari
analisis jalur, analisis wilayah potensi pertanian, dan kebijakan
penanganan jalan, ditabulasikan susunan prioritas penanganan jaringan
jalan. Kabupaten Garut memiliki 13 pusat pemasaran, yang merupakan pasar kecamatan, dua terletak di selatan
dan 11 di utara, dengan Tarogong sebagai pasar utama kabupaten. Jalur
pemasaran produk pertanian bermula dari petani menuju ke kolektor
tingkat desa/kecamatan, yang menetap di wilayah yang tidak memiliki
pasar harian. Dari kolektor desa/kecamatan produk dialirkan menuju ke
bandar kecamatan, yang menetap di wilayah yang memiliki pasar harian,
yang selanjutnya dialirkan menuju ke bandar utama di Tarogong, atau ke
bandar besar di luar kabupaten. Jalur pemasaran dipergunakan sebagai
acuan pergerakan pada analisis jalur. Panjang jalan di Kabupaten Garut adalah 1.139,9 km, dimana 50%-nya terdapat di wilayah utara. Kondisi jaringan jalan di Kabupaten Garut
adalah 73% berada dalam kondisi mantap, dimana 59%-nya berada di
wilayah utara. Kebijakan penanganan jalan adalah memelihara jalan agar
dapat dilalui sepanjang tahun, yang meliputi kegiatan pemeliharaan dan
peningkatan. Kriteria dalam penanganan jalan tersebut adalah ruas jalan
pada jalur menuju kawasan strategis, jalan dalam kota, dan jalan
lainnya. Panjang jalan hasil analisis jalur berdasarkan jarak minimal
yang menghubungkan pusat-pusat pemasaran adalah 38% dari total panjang
jalan di Kabupaten Garut, dimana 44%-nya
terdapat di wilayah utara. Jalur hasil analisis ini merupakan jalur
ideal, karena merupakan jalur antar pusatpusat pemasaran yang
terefrsien. Panjang jalan hasil analisis jalur berdasarkan total biaya
penanganan minimal yang mengintegrasikan pusat-pusat pemasaran adalah
34% dari total panjang jalan di Kabupaten Garut,
dimana 35%-nya terdapat di wilayah utara. Total biaya penanganan hasil
analisis ini merupakan dana minimal yang hams disediakan Pemerintah
Kabupaten Garut, karena jalur ini
mengintegrasikan seluruh pusat pemasaran menuju ke Tarogong sebagai
pasar utama. Dengan demikian jalan yang harus ditangani wilayah di utara
maupun selatan dapat tertangani secara
proporsional sesuai dengan fungsi keterhubungannya. Wilayah potensi
pertanian tanaman pangan di Kabupaten Garut
tersebar merata. Urutan wilayah potensi pertanian dipergunakan sebagai
acuan penentuan wilayah yang perlu dihubungkan dan ditangani jaringan
jalannya. Kajian prioritas menghasilkan tujuh urutan prioritas
penanganan jaringan jalan, yang mencakup ruas-ruas yang perlu ditangani,
letaknya, jenis penanganannya, dan besar anggaran yang dibutuhkan. Dari
urutan prioritas tersebut disusun daftar penganggaran, sehingga dari
anggaran yang diajukan dapat direkomendasikan ruas-ruas yang perlu
ditangani.







